Topi Drumband Bag.1 Kepala Besar Tidak Kebagian

Dua kardus besar diturunkan sebuah mobil ekspedisi didepan sekolah, kelihatannya ringan sekali. Tampak tulisan besar “Topi Drumband” pada masing-masing kardus. Pak Maman segera keluar menghampiri kurir ekspedisi yang menurunkan kardus-kardus tersebut. Murid-murid berhamburan kesekitar mobil yang terpakir membelakangi pintu ruang guru.

“Hore..hore.. ! topi drumband sudah datang.” Teriak murid-murid.

Pak Maman kemudian meminta anak-anak yang berbadan besar untuk menggotong dua kardus kedalam ruang kesenian. Dengan semangat siswa yang ditunjuk segera melaksanakan apa perintah pak Maman tanpa mengeluh.

Sebentar kemudian pak Maman mengambil sebilah pisau dan membuka kedua kardus tersebut.

“Awas anak-anak, biar bapak buka dulu, ayo minggir jangan berebut nanti semua kebagian.” Sergah pak Maman menghalau para siswa yang mengerumuni kardus sambil menggoyang-goyangkan isinya.

Seminggu yang lalu sekolah tempat pak Maman mengabdi melakukan pemesanan topi drumband di Jogjakarta secara online. Jauh memang, tapi bagaimana lagi di kota tempat tinggal pak maman tidak ditemukan produsen topi drumband. Dulu sekolah ini juga pernah membeli seragam drumband dan alat marchingband ditempat yang sama. Karena kekurangan dana, hingga pada waktu itu topi belum sempat terbeli satu biji pun. Beruntung, penjualnya baik hati mau melayani pemesanan topi drumband saja. Bahkan dalam waktu cepat kurang dari 10 hari pesanan topi sudah datang.

topi drumband

Tiga hari lagi sekolah tersebut mendapat undangan pementasan marchingband oleh para siswa di kantor Kabupaten. Sejak menerima undangan itu, Kepala sekolah dan pak Maman lah yang sibuk mengurusi persiapannya. Maklumlah pelatih drumbandnya sudah lama tidak bisa mengurusi karena sudah pulang kampung.

Kardus-kardus sudah dibuka semua, isinya sudah dikeluarkan dan dihitung dan jumlahnya tidak kurang tidak lebih.

“Anak-anak topi ini sudah bapak hitung dan jumlah semuanya ada 50 topi pasukan drumband.” Pak Maman mulai memberi penjelasan kepada para siswa.

“Topi mayoretnya ada kan pak?” Tiba-tiba Mimin berteriak mengajukan pertanyaan seolah takut tidak ada topi mayoretnya.

Mimin adalah salah satu mayoret disekolah itu dan seorang lagi bernama Yani. Pantas saja kalau dia khawatir tidak ada topi mayoretnya. Dia sudah khawatir tidak pakai topi saat pementasan di Kabupaten nanti seperti pentas-pentas sebelumnya.

“Makanya dengarkan bapak dulu, yaa..”Jawab pak Maman.

“Saya ulangi lagi, topi pasukan ada 50 dan topi mayoret ada 2. Jadi sama dengan jumlah seragam drumband yang kita miliki” Begitu penjelasan Pak Maman.

“Sekarang silahkan maju satu-satu dan ambil yang sesuai dengan ukuran kalian, jangan berebut. Semua pasti kebagian karena bapak kemarin pesannya sudah sesuai dengan jumlah anggota marchingband kita”. Pak Maman memberi arahan.

Satu persatu siswa maju mengambil topi drumband dan mencoba dikepala masing-masing. Tidak ada yang mencoba berganti-ganti kelihatannya semua topi pas untuk kepala anak-anak. Masih sekitar 20 biji topi pasukan yang belum diambil anak-anak. Disana masih ada sekitar 20 siswa juga yang masih antri.

“Pak kok tidak ada yang sesuai dengan ukuran kepala saya ya?” Gendut merajuk kepada pak Maman karena merasa tidak ada topi yang muat dikepalanya.

Topi Drumband Untuk Gendut

Gendut memang salah satu siswa yang berbadan paling besar sendiri, sesuai dengan namanya. Dia tampak seusia anak SMA namun tubuhnya masih pendek. Dulu pun ketika membeli pakaian drumband, Gendut harus dipesankan dengan ukuran khusus.

Semua siswa sudah mendapat bagian topi masing-masing. Tinggal satu topi pasukan yang belum diambil. Dan disana Gendut dan pak Maman hanya tinggal berdua saja. Gendut semakin cemberut karena merasa gak bakal mendapatkan topi drumband dan saat pementasan gak mungkinkan tidak pakai topi sendiri.

“Pak topinya tinggal satu, tapi tidak muat saya pakai, gimana ini pak?” Gendut masih bertanya dengan nada harapan.

“Iya ya Ndut, coba nanti bapak menghubungi yang jual topi drumband di Jogja lagi, siapa tahu mau berbaik hati membuatkan satu biji khusus untuk kamu.” Pak Maman mencoba menenangkan. Sejenak kemudian nampak Beliau berbicara melalui telpon entah dengan siapa. Namun kemudian membawa kabar baik untuk Gendut.

“Begini ndut, bapak sudah menghubungi penjual topi drumband yang di Jogjakarta sana, dan hari ini sanggup membuatkan satu biji khusus untuk kamu langsung mengirimkannya. Besok siang kemungkinan barang sudah sampai disini, jadi kamu tidak perlu risau, ya” Pak Maman menenangkan Gendut yang bertambah khawatir.

Mendengar itu, Gendut perlahan-lahan wajahnya mulai cerah dan tersenyum.

“Benar pak,? Terimakasih ya pak.” Gendut meyakinkan sambil berhambur menemui teman-temannya.

Terdengar ditelinga pak Maman suara teman-temanya diluar mengejek Gendhut.

“Sudah-sudah, ada teman kesusahan kok malah diejek. Besok topi drumband Gendut sudah akan datang, sekolah akhirnya beli lagi satu biji yang ukuran besar. Pesan bapak rawat baik-baik topi drumband ini ya.. supaya kelak adik kelasmu bisa menggunakannya lagi.” Pak Maman menghampiri anak-anak sambil memberi wejangan supaya topi digunakan dan dirawat baik-baik.

Leave a Comment